Memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-34, SMK NU 01 Kendal menggelar serangkaian kegiatan penuh makna di hall sekolah, Rabu (08/05/2025).
Kegiatan diawali dengan tadarus Alquran dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap para pendiri sekolah. Momen ini menjadi bentuk refleksi atas perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kemajuan pendidikan di SMK NU 01 Kendal hingga mencapai usia yang ke-34 tahun.
Doa bersama berlangsung khidmat. Seluruh civitas akademika mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, hingga siswa dari berbagai jurusan larut dalam kekhidmatan dan suasana haru saat nama-nama pendiri sekolah disebutkan dalam untaian doa.
Mewakili Yayasan Alhidayah Kendal, Sudi Mudiono dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras civitas SMK NU 01 Kendal dalam menjaga eksistensi dan kualitas pendidikan selama 34 tahun terakhir. Ia mewakili ketua yayasan, Sunari Sofyan yang berhalangan hadir.
“Memasuki usia ke-34 tahun, SMK NU 01 Kendal telah memasuki tahap kedewasaan dalam perjalanan pendidikannya. Usia ini menjadi momentum penting untuk terus meningkatkan kualitas, khususnya dalam hal kedisiplinan, baik dalam sistem belajar-mengajar maupun dalam manajemen pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya.
Sebagai pendidik, lanjutnya, tugas kita tidak berhenti pada aktivitas mengajar di kelas atau sekadar memberikan materi dan ulangan. Lebih dari itu, menjadi guru berarti membangun hubungan yang bermakna dengan peserta didik, sebuah ikatan batin yang menghadirkan ruh pendidikan dalam setiap interaksi.
“Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mentransformasikan karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta menjadi teladan yang menginspirasi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMK NU 01 Kendal Achit Abdurahman menyampaikan pesan untuk para siswa agar menyukuri nikmat yang diterima dan kemajuan yang telah diraih. Dirinya mengajak untuk selalu berdoa agar harapan pribadi maupun sekolah dapat terwujud.
“Saya juga menekankan pentingnya menjaga keprihatinan dalam hidup, bukan dalam arti negatif, melainkan sebagai bentuk kesadaran dan kepedulian. Orang yang paling beruntung bukanlah yang paling kaya atau paling pintar, melainkan mereka yang paling ingat, ingat kepada Allah, kepada orang tua, dan kepada guru. Syukur-syukur kalian bisa bermanfaat bagi orang lain, syukur-syukur bisa mendoakan orang tua dan guru itu sudah luar biasa,” pesannya.
Acara diakhiri dengan tausiyah menghadirkan KH Suwarto M. Dhofir sebagai pembicara dan memimpin doa bersama.
Perayaan Harlah juga dimeriahkan dengan lomba tumpeng antar jurusan. Setiap jurusan menampilkan kreativitas menyusun dan menghias tumpeng. Tidak hanya dari segi tampilan, tumpeng juga dinilai dari makna simbolis yang disampaikan
