#
[Kategori : MATERI].
[Oleh : ADMIN. ADMIN].
2021-11-29 15:53:27 152

Mau diterima apa tidak, di era society (5.0) ini kita harus terus menyimbangkan diri dengan akselarasi teknologi. Arus cepat teknologi informasi terkadang sering membuat kita montang-manting dalam menggunakannya. Sangking luar biasa cepatnya arus teknologi, kita lebih sering fokus hanya untuk menggunakannya agar tidak dianggap gagap teknologi. Disisi lain, keinginan besar untuk selalu kekinian membuat kita masih buram mata dalam memahami makna tersirat dari teknologi yang kita manfaatkan.

 

Sejak abad ke-15 media teknologi melalui media massa telah mampu merubah mindset manusia, bahkan mampu menskenario ulang sejarah sesuai keinginan penguasa teknologi. Keberhasilan tersebut ternyata juga terus berulang-ulang di era-era selanjutnya. Hingga sekarang ini, kegemaran masyarakat menggunakan stiker media sosial menjadi anak panah yang siap digunakan untuk membidik siapa saja.

 

Stiker media sosial yang dianggap mampu mewakili pesan singkat si pengirim, bahkan mewakili isi hati si pengirim, saat ini mulai disisipi stiker yang sebenarnya mengandung makna untuk menggiring opini propaganda.

 

Saat ini, kaum milenial lah yang paling empuk untuk digodok dan dipermainkan mindsetnya. Melalui dari video singkat, memey singkat selanjutnya diperkuat dengan stiker medsos untuk menjaga konsistensi cuci otak yang direncanakan dalam tempo waktu yang panjang.

 

 Dari penulis sendiri, sering mendapati kaum milenial melakukan bullying terhadap parpol tertentu melalui stiker medsosnya. Mereka berprinsip bahwa pemimpin di parpol tersebut membuat kebijakan yang merugikan rakyat, sehingga pantas untuk dibully. Ya memang, sekilas pembelaan opini ini terlihat benar. Padahal jika kita menerapkan ajaran kanjeng Nabi dengan benar, maka tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW mengajari kita untuk menghujat siapapun sekalipun kita dalam keadaan terdzolimi. Nah ini sekarang kebanyakan diantara kita sudah nyata menikmati kekayaan negeri ini, masih saja gemar menghujat. Masih ingatkah dengan suatu riwayat, seorang buta yahudi yang selalu menghujat Rasulullah. Singkat cerita, si Yahudi tersebut terkaget dengan suapan makanan di hari itu. Hari ini si yahudi tersebut menolak suapan dari seorang pria yang menurutnya berbeda dari suapan sebelumnya yang jauh lebih lembut dan menghadirkan kelezatan yang luar biasa. Akhirnya, pria itu menjelaskan bahwa dirinya Abu Bakar, ia menjelaskan bahwa pria sebelumnya yang rutin menyuapinya dengan lembut setiap hari telah meninggal, dia adalah Rasulullah SAW. Seketika si yahudi tersebut menangis tersungkur merasa sangat menyesal dan melalui Sahabat Abu Bakar ia menyatakan keislamannya. Seperti inilah indahnya Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

 

Selanjutnya, ada juga anak-anak remaja yang tanpa sengaja dengan bangganya membagikan stiker yang bernuansa komunis, sementara mereka tidak menyadari maksud tersirat dari stiker tersebut. Jika ditanya yah, mereka menjawab asal ikut-ikutan aja. Padahal sebagian dari kita telah faham betul sejarah keterlibatan komunis di negeri ini, komunis merupakan salah satu ajaran yang tidak mengakui adanya Tuhan. Sehingga sangat berbahaya juga jika ajaran ini dibiarkan berkembang di begeri ini.

 

Nah, dari beberapa kejadian diatas kita sebagai warga NU tentu harus menjaga fikrah kita agar tetap bersikap tasammuh, tawassuth, tawazzun dan 'adalah. Mari kita ajak kaum millenial untuk lebih cerdas dan arif dalam berpikir kritis sebelum mengambil tindakan yang kritis. 

 

Kaum milenial harus bersikap tasammuh yang artinya menjaga rasa toleransi baik antar umat beragama maupun yang berbeda aqidah. Belajar dari Ulama 4 mazhab, ketika beliau-beliau kuat dalam mengambil suatu ijtihad, mereka tidak saling menyalahkan maupun menjelekkan ulama lain. Justru mereka saling memuji dan mengakui kealiman satu sama lain.

 

Berikutnya, generasi millenial harus bersikap tawassuth (moderat) dimana seharusnya sebagai calon pemimpin negeri ini di 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang, mampu menempatkan diri di tengah.  Tidak menunjukkan atau memiliki rasa condong kepada siapapun sehingga akan melahirkan sikap tawazzun yakni seimbang. Segala sesuatu yang baik adalah sesuatu yang berjalan dengan seimbang, jika keseimbangan pemikiran dapat diraih, maka generasi milenial akan bersikap 'adalah atau adil terhadap siapapun. Tidak tumpul keatas dan tajam ke bawah.

 

Dari konsep fikrah NU diatas, kaum milenial maupun generasi sebelumnya harus cermat dan hati-hati dalam menggunakan teknologi. Jangan buru-buru hanya untuk menjaga status kekinian, kemudian kita harus uptodate menggunakan stiker medsos yang terkadang kita tidak menyadari imbas dari penggunaannya. Telaah dulu fungsi dan tujuan teknologi tersebut, baru ambil tindakan yang bijak. Apalagi, sekarang ini sudah ada polisi cyber crime yang akan menindak tegas pelanggaran penggunaan media sosial. Jika kita memiliki kesulitan untuk mengambil tindakan yang bijak, jangan lupakan untuk sowan ke poro Kyai, Ulama yang mampu membimbing kita melalui ijtihad mereka. Aamiin (Arif)

CARI




KATEGORI